Hijrah Rasulullah saw Ke Madinah

Ibn Ishaq menuturkan bahwa setelah para sahabat berhijrah ke Madinah, Rasulullah saw. masih tinggal di Makkah, menunggu hingga diizinkan berhijrah. Seluruh kaum Muhajirin telah berhijrah ke Madinah, kecuali para sahabat yang ditawan (oleh keluarga/sukunya, pen.) atau mengalami penyiksaan. Pengecualian lainnya adalah Ali bin Abu Thalib dan Abu Bakar bin Abu Quhafah.

Ibn Ishaq juga mengatakan bahwa Asma binti Abu Bakar r.a. bertutur:

Tatkala Rasulullah saw. dan Abu Bakar telah berangkat, beberapa orang Quraisy mendatangi rumah kami, termasuk Abu Jahal. Mereka berdiri di pintu rumah Abu Bakar, lalu aku pun menemui mereka. Mereka berkata, “Mana ayahmu, hai putri Abu Bakar?” Aku menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu kemana ayahku pergi.” Abu Jahal mengangkat tangannya dan menampar pipiku hingga anting-antingku terlepas dari telingaku. Setelah itu mereka pergi dari rumahku.

Ibn Ishaq juga menuturkan bahwa Abdurrahman bin Uwaym bin Sa‘idah, sebagaimana dituturkan Muhammad bin Ja’far bin az-Zubair dari Urwah bin az-Zubair, berkata:

Beberapa sahabat Rasulullah saw. yang berasal dari kaumku berkata, “Tatkala kami mendengar Rasulullah saw. telah pergi dari Makkah dan kedatangannya sudah semakin dekat, maka selesai shalat subuh kami berjalan keluar dari perkampungan untuk menunggu/menyambut kedatangan beliau. Demi Allah, kami tidak beranjak hingga terik matahari menyengat. Apabila kami tidak menjumpai tempat untuk berteduh, kami pun masuk ke dalam rumah. Pada hari kedatangan Rasulullah saw., kami juga menunggu sebagaimana hari-hari sebelumnya. Tatkala kami tidak menjumpai tempat untuk berteduh, kami masuk ke rumah masing-masing. Rasulullah saw. datang ketika kami telah masuk ke rumah masing-masing. Orang yang pertama kali melihat kedatangan beliau adalah salah seorang Yahudi. Ia pernah menyaksikan apa yang kami lakukan, yakni menunggu (kedatangan Rasulullah saw. pada hari-hari sebelumnya, pen.). Orang Yahudi itu berteriak dengan suara keras, “Wahai Bani Qailah (Anshar)! Ini dia kakek kalian telah datang menuju kalian.”

Kami pun bergegas keluar rumah untuk menyambut Rasulullah saw. yang saat itu tengah berteduh di bawah pohon kurma ditemani oleh Abu Bakar yang seusia dengan beliau. Kaum Anshar lalu berkerumun di sekitar Rasulullah saw. Mereka tidak bisa membedakan yang mana Rasulullah saw. dan yang mana Abu Bakar. Tatkala tempat tersebut tidak bisa lagi menaungi Rasulullah saw., maka Abu Bakar berdiri dan memayungi Rasulullah saw. dengan bajunya. Saat itulah kami baru mengetahui yang mana Rasulullah saw.

Pelajaran dari Hijrah Rasulullah saw.

Banyak orang yang menganggap bahwa hijrahnya Rasulullah saw. dan kaum Muslim dari kota Makkah ke Madinah adalah sebuah eksodus (pelarian); menghindar dari kekejaman, penganiayaan, dan pembunuhan orang-orang Quraisy yang dilakukan secara sistematis terhadap Rasulullah saw. dan para pengikutnya. Hijrah Rasulullah saw. dan kaum Muslim dari Makkah ke Madinah sangat berbeda latar belakang dan tujuannya dengan hijrahnya sebagian kaum Muslim ke Habsyah, yang pernah dilakukan mereka pada masa sebelumnya. Anggapan atau tuduhan bahwa hijrahnya Rasulullah saw. dan kaum Muslim ke Madinah itu tindakan eksodus lantaran takut dibunuh oleh kaum Quraisy sama sekali tidak benar. Sebab Rasulullah saw. Tidak pernah menghitung kematian dalam menempuh jalan dakwah. Hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan kaum Muslim yang merupakan perintah Allah Swt. kepada mereka adalah demi dakwah Islam dan tegaknya Daulah Islamiyah. Justru orang-orang Quraisy bersekongkol untuk membunuh Rasulullah lantaran takut Beliau hijrah dari Mekah ke Madinah. (an-Nabhani, Daulah Islamiyah, hal 47).

Hijrahnya kaum Muslim ke Madinah dengan sendirinya menuntut pengorbanan yang sangat besar. Banyak di antara mereka yang terpaksa meninggalkan perniagaannya di kota Makkah; tidak sedikit kaum Muhajirin yang terpaksa meninggalkan suami atau istrinya yang masih tetap kafir, atau bahkan anak-anak, orangtua dan keluarga/sukunya; banyak pula yang meninggalkan rumah tempat kediamannya. Yang tidak sanggup pergi berhijrah—karena ditawan oleh keluarga atau kabilahnya, atau dihalang-halangi oleh majikannya—juga dituntut untuk berkorban. Ibn Ishaq berkata, “Kaum Muslim Makkah yang tidak sanggup berhijrah pasti ia disiksa atau ditawan oleh orang-orang Quraisy.” (Sîrah Ibn Hisyâm, jilid II/116).

Begitulah kondisi Rasulullah saw. dan kaum Muslim Muhajirin, mereka mengorbankan apapun yang dimilikinya, semata-mata untuk menunaikan perintah Allah Swt. dan meraih keridhaan-Nya. Di samping itu mereka melihat harapan baru bagi tumbuhnya Islam di Madinah yang kondusif.

Dalam Sejarah pertumbuhan Islam, hijrah merupakan garis batas pemisah antara fase dakwah kepada Islam dengan fase mewujudkan masyarakat dan negara yang menjalankan pemerintahan dengan Islam dan menerapkan hukum syariatnya. Batas antara dakwah menggunakan dalil dan argumentasi dengan kekuatan negara yang melindungi dakwah dari berbagai kekuatan jahat. (an-Nabhani, Idem).

Setibanya Rasulullah saw. di Madinah, sambutan kaum Muslim Anshar sangat antusias. Berhari-hari kaum Muslim Anshar rela menanti Rasulullah saw. di luar kota Madinah, rela berpanas-panas di bawah terik matahari. Hal itu merupakan ungkapan kecintaan mereka terhadap Rasulullah saw., serta konsekuensi dari perjanjian mereka dengan Rasulullah saw. (dalam Baiat Aqabah II) yang mengharuskan mereka (kaum Anshar) untuk menjaga dan melindungi Rasulullah saw. Kecintaan mereka terhadap Rasulullah saw. melebihi kecintaan mereka terhadap harta kekayaan mereka, anak, istri, dan keluarga mereka; bahkan terhadap jiwa mereka sekalipun.

Meskipun demikian, kecintaan kepada Rasulullah saw. tidak serta-merta diwujudkan hanya dengan menyambutnya dengan perasaan was-was dan gembira. Akan tetapi, lebih dari itu, kecintaan kepada Rasulullah saw. harus disertai dengan mengikuti dan menjalankan amal perbuatan Rasulullah saw. yang telah ditaklifkan kepada kaum Muslim, termasuk mengikuti manhaj Nabi saw. di dalam berdakwah. Itulah yang dilakukan sahabat Muhajirin dan Anshor. Bagaimana dengan kita? [AF]

Baca Juga:

About these ads

Posted on 3 Desember 2010, in Tarikh and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.881 pengikut lainnya.