Khutbah Idul Adha 1431 H : Membangkitkan Jiwa Berkorban Untuk Menegakkan Khilafah Islamiyyah

download versi word ((di sini))

Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma’âsyira al-Muslimîn Rahimakumullâh,

Hari ini, umat Islam di seluruh dunia merayakan hari Raya Idul Adha. Pada hari ini pula, umat menampakkan diri sebagai umat satu. Umat yang diikat oleh akidah yang sama, yaitu akidah Islam. Dan diatur dengan hukum yang sama, yaitu hukum Islam.

Di tengah hari yang bahagia ini, kita masih diselimuti bertumpuk duka. Berbagai musibah telah dan sedang menimpa umat ini. Palestina, Irak, Afghanistan masih dalam cengkeraman AS dan Israel. Sementara negeri Islam yang lain terperosok dalam penjajahan sosial budaya ekonomi politik pendidikan dan pertahanan keamanan disebabkan para penguasanya adalah antek penjajah kafir. Demikian pula negeri ini, terus dilanda bencana susul-menyusul. Banjir Wasior, tunami Mentawai dan letusan Merapi menambah luka bencana sebelumnya yang belum mengering. Duka dan luka itu semakin menyakitkan terasa ketika para penguasa negeri ini lebih suka plesir ke luar negeri daripada segera menolong rakyatnya.

Pertanyaannya, sampai kapan kondisi ini akan terus terjadi? Apa yang menyebabkan kondisi umat yang dinyatakan oleh Allah sebagai umat terbaik ini begitu menyedihkan? Sampai kapan kita terus berdiam diri, membiarkan seluruh keyakinan dan kehormatan kita dilucuti selembar demi selembar dari tubuh kita hingga hampir-hampir tidak tersisa lagi?

Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma’âsyira al-Muslimîn Rahimakumullâh,

Sesungguhnya Allah Swt dan Rasulullah saw telah menunjukkan solusi tuntas bagi kita atas seluruh problematika ini. Yakni ketaatan total tanpa syarat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan total itu dapat terwujud sempurna dengan penerapan syariah secara kaffah dalam naungan Khilafah. Kewajiban menegakkan Khilafah ini telah menjadi ijma’ seluruh ulama sebagaimana penjelasan al-Imam al-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim.

Panutan dan teladan kita, Rasulullah saw tidak hanya menyampaikan risalah, namun juga menerapkan risalah itu dalam kehidupan bernegara. Tatkala beliau kembali ke haribaan-Nya, wilayah negaranya meliputi seluruh Jazirah Arab. Negara yang diwariskan Rasulullah saw itulah yang disebut sebagai khilafah, kepala negaranya disebut dengan Khalifah. Namun sayangnya, negara itu kini telah tiada, setelah dihancurkan kaum Kafir penjajah, Inggris dan sekutunya, bekerjasama dengan Musthafa Kamal Attaturk, la’natu-Llah ‘alayhim.

Tiadanya khilafah inilah yang membuat umat Islam lemah tak berdaya menghadapi musuh-musuhnya. Kondisinya persis seperti yang digambarkan Nabi saw: laksana makanan di atas nampan yang dikerumuni musuh-mushnya. Jumlahnya besar, namun seperti buih yang diombang-ambingkan gelombang

Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma’âsyira al-Muslimîn Rahimakumullâh,

Pada Hari Raya Idul Adha kita selalu diingatkan kisah tentang ketataan seorang Ibrahim as dan Ismail as dalam mengerjakan perintah Tuhannya. Ibrahim bersedia menyembelih putranya, sementara Ismail rela disembelih. Sikap dilakukan untuk membuktikan ketaatan mereka kepada Tuhannya. Inilah ketaatan total yang seharusnya dilakukan setiap hamba kepada Tuhannya.

Apakah sikap kita sudah seperti itu? Apakah kita telah memiliki ketaatan total kepada Allah dan Rasul-Nya? Sudahkah kita mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya dalam setiap perintah dan larangan-Nya?

Ketika Allah memerintahkan kita shalat, kita segera melaksanakannya. Ketika memerintahkan kita berpuasa, kita juga segera melaksanakannya. Ketika kita dilarang memakan Babi, kita pun segera meninggalkannya. Lalu, mengapa ketika Allah memerintahkan kita untuk menerapkan hukum-hukum-Nya, kita abai? Mengapa ketika Allah memerintahkan kita melaksanakan sistem ekonomi berdasarkan hukum-hukum-Nya, kita tidak menunaikannya? Begitu pun ketika Allah memerintahkan kita melaksanakan sistem pemerintahan berdasarkan hukum-hukum-Nya, kita tidak melaksanakannya? Bukankah kita tahu, bahwa hanya dengan hukum-hukum-Nya kehidupan kita akan menjadi lebih baik, dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat? Bukankah kita juga tahu, bahwa tanpa sistem pemerintahan Islam yang mampu mempersatukan umat, yakni Khilafah Islamiyah, umat ini menjadi lemah dan hina?

Lihatlah, kondisi politik, ekonomi, militer, sosial, budaya dan semua bidang kehidupan umat Islam saat ini. Semuanya dalam kondisi yang terpuruk. Kehidupan mereka dikuasai, dikontrol, disetir dan dijajah oleh musuh-musuh mereka. Kita hanya jadi pengekor yang tunduk dan patuh kepada orang-orang Kafir penjajah. Lihatlah, berapa ratus triliun rupiah telah dihabiskan untuk melaksanakan sistem demokrasi, yang nyatanya tidak membawa kebaikan bagi kehidupan mereka. Lihatlah ide-ide HAM, liberalisme, sekularisme, kapitalisme, dan segala isme-isme yang lain, yang jelas bertentangan dengan Islam, justru diterapkan oleh umat ini, karena mengekor orang-orang Kafir penjajah? Kita rela tunduk dan patuh kepada musuh Allah, Rasul-Nya dan orang Mukmin, sebaliknya rela mengkhianati Allah SWT dan Rasul-Nya. Jadilah kita umat yang hina. Terpuruk dalam kenistaan, kemiskinan, dan kebodohan. Jadilah kita korban keserakahan mereka hingga nyawa pun tidak ada harganya. Nyawa umat Islam begitu murah. Realitas di Palestina, Irak, Afghanistan, Kashmir, Moro, Pattani dan tempat lainnya menjadi buktinya. Ini terjadi justru ketika Nabi telah menitahkan dalam Haji Wada’:

«فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ»

”Sesungguhnya darah kalian, harta dan kehormatan kalian adalah merupakan kemuliaan bagi kalian, sebagaimana kemuliaan hari ini, di bulan ini dan di negeri ini.”

Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma’âsyira al-Muslimîn Rahimakumullâh,

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as itu juga memberikan gambaran cinta yang benar. Bahwa cinta yang hakiki hanyalah cinta kepada Allah SWT. Adapun cinta kepada makhluk diletakkan di bawah cinta kepada-Nya. Inilah yang kita saksikan dengan terang dari sikap Nabiyullah Ibrahim as.; betapa kecintaan Ibrahim kepada putra yang paling ia cintai tetap diletakkan di bawah cintanya kepada Allah SWT. Sikap ini jelas sesuai dengan tuntunan Allah SWT sendiri, yang telah menyuruh kaum Muslim untuk menempatkan cinta mereka kepada Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kepada yang lain, bahkan di atas kecintaan kepada diri mereka sendiri (lihat QS at-Taubah [9]: 24).

Sayangnya, ketulusan cinta kepada Allah Swt yang ditunjukkan oleh Ibrahim as dan Ismail as itu  belum banyak diteladani umat Islam saat ini. Banyak di antara kita yang masih didominasi oleh cinta kepada selain Allah daripada cinta kepada-Nya. Akibatnya, lebih mencintai  dunia dibandingkan akhirat; lebih mencintai keluarganya daripada berdakwah dan memperjuangkan agamanya; lebih mencintai harta ketimbang berjihad di jalan-Nya; lebih mencintai kekuasaan ketimbang memperjuangkan kemuliaan Islam; bahkan lebih mencintai musuh-musuh Islam ketimbang kaum Muslim.

Tidak aneh jika kita baru saja dipertontonkan sikap sebagian kaum Muslim di negeri ini, khususnya para penguasa mereka, yang lebih mencintai seorang Obama—penguasa negara penjajah— daripada merasakan penderitaan kaum Muslim di Afganistan, Irak dan Pakistan yang terus menderita; yang semuanya menjadi korban keganasan Amerika yang notabene Obama sebagai kepala negaranya. Para penguasa di negeri ini seolah lupa, bahwa saat mereka menyambut hangat kedatangan pemimpin negara penjajah itu, pada saat yang sama, pasukan negara penjajah itu –yang tentu di bawah komando Obama– terus membunuhi saudara-saudara mereka di Afganistan, Irak dan Pakistan. Bahkan Amerika, hingga hari ini, tetap mendukung penuh penjajahan dan kekejaman Israel atas kaum Muslim di Palestina. Para penguasa itu seolah lupa, bahwa meski mereka mencintai orang-orang kafir, sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan pernah mencintai mereka; bahkan tetap membenci mereka. Mahabenar Allah SWT yang berfirman, yang artinya:

Begitulah kalian. Kalian menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kalian; dan kalian mengiman al-Kitab seluruhnya. Jika mereka menjumpai kalian, mereka berkata, “Kami beriman.” Jika mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kalian (QS Ali Imran [3]: 119).

Yang lebih parah, para penguasa itu pun malah merumuskan kesepakatan kemitraan komperehensif dengan negara kafir penjajah tersebut. Mereka seolah lupa, bahwa Allah SWT telah mengharamkan kaum Muslim untuk menjadikan orang-orang kafir itu sebagai mitra/sahabat.  Allah SWT berfirman, yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang yang berada di luar kalangan kalian sebagai mitra/sahabat kalian, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemadaratan atas kalian dan mereka menyukai apa saja yang menyusahkan kalian (QS Ali Imran [3]: 118).

Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd.

Ma’âsyira al-Muslimîn Rahimakumullâh.

Kecintaan yang tulus tentulah akan melahirkan sikap berkorban yang juga tulus. Karena begitu cintanya kepada Allah Swt, Ibrahim as tanpa ragu mengorbankan cintanya kepada putranya. Hal yang sama ditunjukkan oleh Ismail as. yang juga rela mengorbankan dirinya sebagai konsekuensi dari perintah Allah Swt itu.

Amat disayangkan, jiwa pengorbanan dalam menjalankan syariah ini tidak terlihat dalam kehidupan sebagian besar umat ini. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang menjalani kehidupan seperti orang-orang kafir. Dari Senin hingga Jumat atau Sabtu, waktunya habis digunakan mencari uang. Sabtu atau ahad dihabiskan bersenang-senang. Tak pernah terpikir tentang mengkaji Islam, berdakwah apalagi menegakkan khilafah. Siang malam hanya disibukkan untuk mengejar dunia, dipusingkan dengan mengkredit rumah, mobil, motor bertahun-tahun lamanya hingga tiba-tiba mati.

Padahal, satu-satunya jalan menuju keselamatan dunia akhirat adalah bersegera melaksanakan syariah-Nya. Menjadi pejuang bagi tegaknya syariah sebagaimana Rasulullah saw dan para sahabat radhiyallahu anhum. Menempuh jalan ini dengan bersungguh-sungguh istiqomah terus-menerus dengan menanggung seluruh resiko dan pengorbanan. Para sahabat Nabi saw begitu masuk Islam langsung menjadi pejuang Islam hingga mereka wafat. Sementara kebanyakan kita sudah muslim dari bayi tapi hingga mati tak penah menjadi pejuang Islam. Sungguh kenyataan ini wajib segera kita ubah.

Rasulullah saw dan para sahabat telah menghabiskan hidupnya dengan beribadah, mengkaji ilmu, berdakwah, bekerja mencari nafkah, mengurus isteri dan anak-anak, berjihad fi sabilillah dan menerapkan Syariah Islam kaffah kepada seluruh rakyat saat menjadi pemimpin. Inilah yang harus kita contoh. Jika kita saat ini sudah beribadah mahdhah, bekerja mencari nafkah, menuntut ilmu-ilmu ibadah dan mengurus keluarga. Maka sesungguhnya ini masih belum cukup. Kita harus menambahnya dengan  menuntut ilmu yang komprehensif dan berdakwah demi tegaknya syariah dan  Khilafah, dan ikut berjihad fî sabîlil-Lah.

Rasulullah saw dan para sahabatnya telah menjadikan perjuangan dakwah untuk menerapkan Syariah dalam bingkai Negara Islam Madinah sebagai perkara hidup dan mati. Bahwa Beliau saw tidak akan mundur selangkahpun sampai kemenangan datang atau binasa dalam perjuangan. Beliau saw bersabda:

«وَاَللّهِ لَوْ وَضَعُوا الشّمْسَ فِي يَمِينِي، وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الأَمْرَ حَتّى يُظْهِرَهُ اللّهُ أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ مَا تَرَكْتُهُ».

”Demi Allah, andai saja mereka bisa meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, (lalu mereka minta) agar aku meninggalkan urusan (agama) ini, maka demi Allah, sampai urusan (agama) itu dimenangkan oleh Allah, atau aku binasa di jalannya, aku tetap tidak akan meninggalkannya.” (Hr. Ibn Hisyam)

Karenanya wajib bagi kita umat Islam, untuk terus-menerus berjuang untuk menerpkan Syariat Islam dengan menegakkan Khilafah, sebagai bentuk kesungguhan kita dalam beribadah kepada Allah Swt. Dengan menanggung segala resiko hingga kita dimenangkan Allah Swt atau kita binasa karenanya. Tidak pantas kita menjadikan segala kenikmatan dunia sebagai alasan untuk tidak berjuang. Jika kita menjadikan kesibukan kerja, mengurus anak isteri, mengurus bisnis, mengurus orang tua, mengurus jabatan atau apapun juga sebagai alasan untuk tidak berjuang jangan sampai Allah akan mencabutnya dari kita. Ataupun jika masih ada di tangan kita maka Allah Swt mencabut keberkahannya untuk kita. Hingga semua itu hanya akan menjadi penyesalan tiada berkesudahan di dunia dan akhirat. Wahai Umat Muhammad, belum waktunya kah kita bergerak? Masih haruskah kita menunggu? Hingga semuanya terlambat dan tidak ada kesempatan lagi? Marilah kita bersegera bergabung dengan jutaan Umat Islam lain di seluruh dunia dalam satu barisan yang kokoh untuk berjuang.

Marilah kita menjadikan peristiwa haji dan kurban sebagai inspirasi dan motivasi bagi kita semua untuk selalu tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya sekaligus untuk senantiasa berkorban dalam perjuangan menerapkan syariah Islam secara kaffah, tentu dalam institusi Khilafah Islamiyah ’ala Minhaj an-Nubuwwah.

Akhirnya, marilah kita memohon kepada Allah, semoga Allah Swt mengabulkan seluruh permohonan kita. Semoga Allah Swt memberi kita kesabaran dan kekompakan, serta memungkinkan kita berperan penting dalam upaya menegakkan dan memperjuangkan negara Khilafah.

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتنا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ مَنْ يَفْجُرُكَ، اَللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ الذِّيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ.

اَللَّهُمَّ اَهْزِمْهُمْ وَدَمِّرْهُمْ، وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ، وَاجْعَلْ تَدْمِيْرَهُمْ فِيْ تَدْبِيْرِهِمْ، اَللَّهُمَّ اهْزِمْ جُيُوْشَ الْكُفَّارَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، أَمْرِيْكَا وَبَرِيْطَانِيَا وَحُلَفَاءِهَا الْمَلْعُوْنِيْنَ.

اللَّهُمَّ سَلِّمْنَا وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ عَافِنَا وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ قِنَا وَ إِيَّاهُمْ شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَ الدِّيْنِ.

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَ الْبَلاَءَ وَ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرْ وَ السُيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَ السَّدَائِدَ وَ الْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنْ مِنْ بَلاَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَ مِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةَ الرَّاشِدَةَ عَلَى مِنْهَاجِ نَبِيِّكَ، تُعِزُّ بِهَا دِيْنَكَ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَطُغْيَانَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَيَاخَيْرَ النَّاصِرِيْنَ.

آمين.

About these ads

Posted on 14 November 2010, in Khutbah 'Ied and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.500 pengikut lainnya.