Khutbah Jum’at – Isra-Mi’raj

Oleh: Ust. Agus Muslim                   download selengkapnya (pdf)  disini

Dalam banyak hadits shahih diceritakan, banyak kejadian menakjubkan yang beliau jumpai pada saat itu. Dari Makkah ke Baitul Maqdis beliau disertai Jibril menaiki kendaaraan buraq. Sesampai di Masjid al-Aqsha, beliau dipertemukan dengan nabi-nabi terdahulu. Beliau pun shalat bersama mereka dan didaulat sebagai imamnya. Setelah itu, beliau mi’raj (naik) ke langit dunia bersama Jibril. Di setiap tingkatan langit, beliau disambut secara berturut-turut oleh Adam, Yahya dan Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Setelah itu, beliau naik ke sidrat al-muntahâ, lalu ke bait al-ma’mûr, kemudian menghadap Rabbnya. Beliau juga diperlihatkan orang-orang yang mendapatkan kenikmatan surga dan siksa neraka. Juga, diberikan taklif shalat lima puluh waktu dalam sehari, hingga akhirnya tinggal lima waktu. Semua itu merupakan sebagian tanda kekuasaan-Nya yang diperlihatkan kepada beliau.

Diantara pelajaran penting yang dapat kita ambil, ketika Rasulullah SAW melihat para penghuni neraka, diantara mereka beliau melihat ada segolongan orang yang disuguhkan 2 hidangan, yang satu hidangan yang baik berupa daging yang segar dan lezat, yang lainnya hidangan yang buruk berupa daging busuk yang berbau dan berulat. Namun mereka malah memilih makan daging busuk tersebut. Lalu Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril:

من هؤلاء يا جبريل؟

Siapa mereka wahai Jibril? Maka Jibril pun menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang meninggalkan para wanita yang halal bagi mereka (yaitu istri-istri mereka), dan mendatangi para wanita yang diharamkan bagi mereka”

Itulah gambaran orang-orang yang suka berzina. Kelak mereka akan makan makanan yang busuk dan berulat.

معاشر المسلمين رحمكم الله

Peristiwa Isra’ Mi’raj yang maha agung ini menunjukkan keagungan Rasul yang terpilih untuk menjadi subjek dalam peristiwa ini. Rasulullah bahkan menjadi imam sholat bagi para nabi sebelumnya. Keagungan Rasul ini tentu menjadi kebanggaan dan kebahagian kita selaku umatnya dengan tetap mempertahankan dan memelihara kemuliaan tersebut dalam kehidupan kita. Jika tidak, maka berarti kita telah mengotori kemuliaan tersebut. Apalagi dengan sengaja menyalahi aturan dan sunnahnya. Na’udzu biLlah.

Peristiwa isra’ dan mi’raj diabadikan oleh Al-Qur’an dalam surah yang dinamakan dengan peristiwa tersebut, yaitu surah Al-Isra’. Bahkan peristiwa inilah yang mengawali surah ini.

سبحان الذي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Isra’: 1).

معاشر المسلمين رحمكم الله

Sudut pandang tentang isra’ dan mi’raj memang bisa beragam; dari kacamata aqidah, isra mi’raj mengajarkan tentang kekuasaan Allah swt. yang tidak terhingga.

Dari sudut pandang sains, mengajarkan bagaimana dunia keilmuan masih menyisakan teori ilmiah yang belum terkuak. Benarlah pernyataan tulus para malaikat:

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (2:32).

Dari sudut pandang moralitas, peristiwa ini mengajarkan bagaimana adab dan akhlak seorang hamba kepada Khaliqnya. Sungguh beragamnya sudut pandang ini menunjukkan keagungan peristiwa yang hanya sekali terjadi sepanjang kehidupan manusia, dan hanya terjadi kepada seorang insan pilihan, Rasulullah saw.

Sayyid Quthb menafsirkan ayat pertama dari surah Al-Isra ini dengan menyebutkan bahwa ungkapan tasbih yang mengawali peristiwa ini menujukkan keagungannya, karena tasbih diucapkan manakala menyaksikan atau melihat sesuatu yang luar biasa yang hanya mampu dilakukan oleh Dzat yang Maha Kuasa. Sedangkan lafadz “bi’abdihi” adalah untuk mengingatkan status manusia (Rasulullah) dengan anugerahnya yang bisa mencapai maqam tertinggi sidratul muntaha, agar ia tetap sadar akan kedudukanya sebagai manusia meskipun dengan penghargaan dan kedudukan yang tertinggi sekalipun yang tidak akan pernah dicapai oleh seluruh manusia sampai hari kiamat.

Allah swt. memilih perjalanan isra’ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha adalah karena ada ikatan ideologis yang sangat erat; antara aqidah Nabi Ibrahim dengan Nabi Muhammad saw. Disamping ikatan kemasjidan antara kedua masjid tersebut dalam konteks keutamaannya. Rasulullah mengingatkan:

“لا تشدّ الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد: المسجد الحرام، ومسجدي هذا، والمسجد الأقصى”.

“Tidak dianjurkan mengadakan perjalanan kecuali menuju tiga masjid; Masjid Haram di Mekah, Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Aqsha di Palestina.” (Bukhari).

Ini juga untuk mengingatkan umat Islam semua bahwa hubungan ideologis antara seluruh umat Islam dengan Palestina tidak boleh padam dan harus terus diperjuangkan.

معاشر المسلمين رحمكم الله

Namun, apa yang terjadi sekarang. Kita menyaksikan setiap hari penduduk Gaza dibantai dengan biadab oleh bangsa terlaknat (al-maghdhubi ‘alaihim), Yahudi. Bukan hanya manusia, rumah, sekolah dan masjid pun tidak luput dari kebrutalan dan kebiadaban bangsa kera tersebut. Meski demikian, yakinlah apa yang dialami oleh Israel saat ini sesungguhnya adalah kegagalan dan kekalahan. Jatuhnya Palestina ke tangan Yahudi, sebenarnya adalah buah pengkhianatan para penguasa negeri-negeri muslim di sekitar mereka.

Bumi Isra’ Dan Mi’raj Nabi tersebut telah dikhianati. Pemerintah Mesir telah mengkhianati rakyat Gaza dan Palestina. Lihatlah, ketika penduduk Gaza hendak memasuki Rafah, perbatasan Gaza-Mesir, polisi Mesir melepaskan tembakan peringatan ke udara, dan mengusir mereka. Bahkan, kini ketika Gaza sudah dijadikan sebagai zona militer tertutup oleh Israel, dan satu-satunya pintu keluar adalah Rafah, lagi-lagi penguasa Mesir hanya diam menyaksikan saudara-saudara mereka dibantai di depan mata mereka.

Pemerintah Mesir tidak sendiri. Pemerintah Yordania juga melakukan hal yang sama. Bahkan yang lebih ironis lagi adalah penguasa Arab Saudi.

قاتلهم الله أنّى يؤفكون (التوبة 30)

Semoga Allah segera membinasakan mereka. Bagaimana mereka sampai bisa berpaling seperti itu?

Iya. Para penguasa itulah yang sesungguhnya menjadi penyakit Islam dan umatnya. Mereka menjadi benalu, dan racun di tubuh umat Muhammad saw. Ketika tentara-tentara Islam siap berjihad, merekalah yang justru mengikat tangan dan kaki tentara-tentara itu untuk berjihad. Ketika rakyat meluapkan perasaan mereka, untuk memprotes diamnya para pengkhianat itu, justru mereka terus-menerus menjaga kepentingan Yahudi di negeri mereka. Anehnya, mereka pun tidak malu. Iya, mereka memang sudah tidak mempunyai rasa malu. Karena akidah mereka sudah mati. Mereka memang bukan lagi umat Muhammad. Lalu, masihkah umat Muhammad ini berharap kepada mereka?

Tidak. Umat Muhammad yang mulia ini membutuhkan seorang pemimpin yang ikhlas, berjuang dan mengabdi hanya untuk kepentingan Islam dan umatnya. Dialah Khalifah kaum Muslimin. Iya. Sudah saatnya, umat ini mengangkat seorang Khalifah untuk mengurusi dan menyelesaikan seluruh urusan mereka. Khilafahlah yang akan menghentikan jeritan anak-anak, wanita dan orang tak berdaya di Gaza. Khilafahlah yang akan mengerahkan pasukannya untuk berjihad melawan tentara Israel, dan menghancurkan negara Yahudi itu hingga ke akar-akarnya. Khilafahlah yang akan menghadapi Amerika, Inggeris, Rusia dan negara-negara Eropa yang mendukung eksistensi negara Zionis itu. Khilafahlah yang akan membersihkan negeri-negeri kaum Muslimin dari antek-antek negara-negara penjajah itu.

اللهم اخلع كيان اليهود وأعوانها والدول التي دعامتها ودعامت وجودها من فلسطين وسائر بلاد المسلمين من جزرها، وأقم علينا دولة الخلافة يا رب. اللهم عجل لنا نصرتك بقيامها.

Ya Allah, cabutlah entitas Yahudi, para pendukungnya, juga negara-negara yang mendukungnya dan mendukung eksistensinya dari Palestina dan seluruh negeri kaum Muslim hingga ke akar-akarnya. Ya Rabb, dirikanlah di atas puing-puingnya Negara Khilafah. Ya Allah, segerakanlah pertolongan-Mu dengan tegaknya Khilafah

معاشر المسلمين رحمكم الله

Di negeri ini, peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah tersebut diperingati setiap tahun. Bahkan tanggal 27 Rajab ditetapkan sebagai hari libur nasional. Kendati demikian, sudahkah peristiwa penting itu dipahami dengan benar? Dampak apakah yang dihasilkan dari peringatan itu?

Pada peristiwa Isra’ Mi’raj itu terdapat tiga poin yang penting dipahami. Pertama, isra’nya Rasulullah SAW ke Baitul Maqdis dan shalatnya beliau di sana. Kedua, tampilnya Rasulullah SAW sebagai imam bagi para nabi. Ketiga, pilihan Rasulullah SAW terhadap gelas yang berisi susu, seraya menolak khamr.

Tampilnya Rasulullah SAW menjadi imam bagi para nabi itu mengisyaratkan terjadinya alih kepemimpinan bagi umat manusia. Kepemimpinan yang sebelumnya dipegang Bani Israil dengan ditandai banyaknya nabi dari kalangan mereka dialihkan kepada beliau dan umatnya. Isra’nya beliau di Baitul Maqdis dan tampilnya beliau sebagai imam mengisyaratkan bahwa Baitul Maqdis dan sekitarnya termasuk bagian dari daerah kekuasaan negara yang akan beliau dirikan. Alasannya, tuan rumahlah yang berhak menjadi imam dalam shalat.

Pilihan Rasulullah SAW terhadap susu dan dibenarkan Jibril yang menyatakan bahwa pilihan beliau itu sesuai dengan fitrah mengandung maksud bahwa sistem yang diturunkan kepada beliau untuk memimpin manusia itu merupakan sistem yang sesuai dengan fitrah manusia.

Ketiga poin itu memang benar-benar terealisasi. Kurang lebih setahun kemudian, beliau berhasil mendirikan negara di Madinah. Ketika beliau wafat, seluruh Jazirah Arab berada di bawah kekuasaan Islam. Baitul Maqdis dan sekitarnya pun dikuasai beberapa tahun kemudian. Tepatnya, ketika Umar bin al-Khaththab menjadi khalifah. Dan itu terus berlangsung hingga khilafah Utsmaniyyah runtuh. Memang daerah itu sempat dikuasai pasukan salib, namun tentara Islam segera bisa merebutnya kembali.

Seharusnya, peringatan Isra’ Mi’raj yang rutin dilakukan setiap tahun itu menyadarkan tentang beberapa poin di atas. Jika kini umat Islam kehilangan Khilafah sehingga tidak lagi menjadi pemimpin dunia; jika Baitul Maqdis yang seharusnya di bawah kekuasaan Islam justru dikangkangi Bani Israil, sementara umat Islam diam dan tidak merasa bersalah akan hal itu, maka peringatan Isra’ Mi’raj perlu dipertanyakan dampak yang dihasilkan. Akankah kita tidak tergerak untuk merubahnya?

Oleh karena itu, kita harus mengambil hikmah dan makna yang sesungguhnya yaitu sudah saatnyalah kita memiliki kepemimpinan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Sudah saatnyalah Islam memimpin dunia, sudah saatnyalah syari’at Islam diterapkan di seluruh aspek kehidupan umat manusia. Semoga segera terwujud. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Baca Juga:

last update: 27 Mei 2013  08:26

About these ads

Posted on 12 Oktober 2010, in Aqidah, Khutbah Jum'at, Syari'ah and tagged . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Kita terbiasa hanya bicara sebagian kalimat (anak kalimat) saja. Padahal surat Isra ayat 1 itu, memiliki beberapa rangkaian anak kalimat. Perhatikan: I. Dzat Yang Mahasuci telah memperjalankan seorang hambaNya di malam hari dari Masjilharam ke Masjidil Aqsha. II Yang telah Kami berkahi sekelilingnya. III. Untuk memperlihatkan (kepada)nya (Muhammad) sebagian ayat-ayat Kami. IV. Sungguh Dia (Allah) Mahamendengar (lagi) Mahamelihat. Pada kalimat I, sudah menjadi kalimat sempurna dan mudah dipahami, meskipun pada prakteknya justru inilah yang menjadi perdebatan itu. Lantaran perjalanan Rasulullah lepas diperjalankan(kalmat muta’adiy) atau berjalan sendiri (kalimat lazim) sebagai manusia yang juga berlaku hukum-kemanusiaanya (terdiri dari materi, ruang dan waktu), inilah yang menyulut pertanyaan besar. Baik pada zamannya dahulu ataupun zaman kini. Apa lagi zaman sekarang diketemukan hukum gravitsi atau percepatan, bahkan sudah jelas bahwa sesuatu yang memiliki kecepatan tertinggi adalah foton (molekul cahaya). Andaikan waktu isra mi’raj itu sudah diketemukan pesawat jet, tak anehlah bisa terbang kemanapun asal sesuai dgn tujuan kapal terbang tsb. Waktu itu (zaman Rasulullah & para sahabat) jangankan pesawat jet, bikin sumur pompa atau dragon-pun belum dikenal. Coba kaji ulang (surat Isra juga) ayat 90 hingga ayat 93. Pada ayat 93, agar mereka, orang kafir, mengimani karasulan Muhammad SAW. meminta agar Rasulullah naik ke langit. Lalu Allah menolong nya untuk menjawab permintaan sebanyak tujuh macam itu: “BUKANKAH AKU INI SEBATAS MANUSIA SEBAGAIMANA ANDA-ANDA, hanya saja aku mendapat bisikan (wahyu dari Allah)”. Artinya, agar Muhammad membuat mata air, memiliki kebun lengkap dan sistem pengairannya, pecahkan langit berkeping-keping, datangkan Allah dan Malaikat hingga berhadapan dengan mereka, miliklah rumah dari emas atau TARQA FISSAMAA-I= TERBANG KELANGIT,DAN KAMI TIDAK AKAN PERCAYA THDP TERBANGMU (KE LANGIT ITU) KALAU PULANG NYA TIDAK BAWA KITAB YANG AKAN KAMI BACA, Jelaslah sudah bahwa semua tuntuan kandas alias tidak bisa dilaksanakan. Maka dalam menghadai 7 tuntutanorang kafir ini Rasulullah diperintah agar menjawab: MAHASUCI TUHANKU, Bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi UtusannYa?. Ini argumentasi Alquran. Apa lebih ngandel kepada argumentasinya Annas bin Malik, turun ke Ibnu Syihab, turun ke Yunuus, terus ke Al Laytsu, terus masih turun lagi ke Yahya bin Bukair, kemudin ditangkep (dicatat) oleh Imam Bukhari. Nah ini baru kish isra’nya. Belum lagi kisah mi’raj-nya atau kisah Isra sekaligus mi’raj. Ilmuwan hanya boleh ngoceh pada disiplin ilmunya. Kalau mau tahu benar atau salahnya tentang kisah itu, pakailah pembanding yang mutlak benar dan silahkan sanggah kalau mampu, yakni ALQURANUL KARIIM Ini baru komen kalimat ke I (satu). Lalu dalam kalimat kedua boleh Anda jawab, Yang telah Allah berkahi sekelilingnya itu apa atau siapa? Belum lagi kalimat yang ke III, ayat-ayat mana, yang ingin Allah perlihatkan kepada Muhammad Al Mustafa SAW itu?. Kegagalan ummat Islam, termasuk ulamanya (pengawal agama) lantaran beralquran kagak lengkap. Boro-boro satu surah (Al Isra sebanyak SERATUS SEBELAS ayat, apa lagi satu Alquran, 114 surah. baru sampai sepenggal ayat saja (Subhanalladzii asraa bi’abdihi laylan minal masjidil haraami ila al masjidilaqsha saja) sudah ngelantur ceritera langit Dunia, tempat nabi Adam merhati-in yg item-item di kiri-kanannya, calon penghuni surga dan neraka. Langit kedua di sana ada nabi Yahya dan Isa dst., dst., Dari hal-hal tsb timbul pertanyaan; jadi kalau begitu arwah para nabi yg telah meninggal tsb. menempati 7 langit?. Kirain mereka berada di alam akhirat. Atau sab’a samawaat (tujuh ruang angkasa) itu alam akhirat? Waktu Rasulullah diisra- kan, bukankah masih hidup, kok sempat-sempatnya ngimamin para nabi yang sudah meninggal, ribuan tahun lagi? Paling mungkin, ya Rasulullah-kah nyalatin arwah-arwah itu. Sayang Anas bin Malik sudah tiada lebih dari seribu tahun lalu, kagak bisa diminta keterangannya. Namun, barangkali yang mengimani ceritera itu bisa memberikan jawaban tepat atau benar? Namun kalau jawabannya sebatas “kalau Allah menghendaki”, atau “ini masalah keimanan, bukan masalah akal” , tidak usah disampaikan. Tidak ilmiah, malu bacanya. Dulu, ketika kita masih kanak-kanak, tidak terpikir seperti apa kedewasaan itu. Kita kini sudah dewasa, ita mampu berpikir tentang ke-kanak-kanak-an itu. Dulu kita iyakan saja kisah isra mi’raj itu seperti itu, ya masih kanak-kanak. Kini kita sudah dewasa, perpikirlah. “Sunggah dalam hal demikian (Alquran, agama) merupakan ayat-ayat/tanda /fakta bagi orang yang bepikir”.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.503 pengikut lainnya.