Khutbah Jum’at : Teliti Dalam Menerima Informasi

Oleh: M. Taufik N.T                   download versi word 2007 disini


الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّا بَعْدُ ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

Ma’âsyirol Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita senantiasa meningkatkan mutu keimanan dan kwalitas ketaqwaan kita, sebab itulah sebaik-baik bekal kita manakala Allah Ta’ala telah menentukan akhir hidup kita.

Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya, Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta’wîl Ayy al-Qu’ân [1] menceritakan bahwa suatu ketika al-Walîd bin ‘Uqbah bin Abî Mu’yth menjadi utusan Rasulullah saw. untuk memungut zakat dari Bani Musthaliq. Ketika Bani Musthaliq mendengar kedatangan utusan Rasul ini, mereka menyambutnya secara berduyun-duyun dengan sukacita. Mendengar hal itu, al-Walîd menduga bahwa mereka akan menyerangnya, mengingat pada zaman Jahiliah mereka saling bermusuhan, maka ia pun kembali dan melapor kepada Nabi, bahwa Bani Musthaliq tidak bersedia membayar zakat, bahkan akan menyerangnya. Maka Rasulullah saw. kembali membentuk utusannya yang baru untuk dikirimkan kepada mereka[2] namun ketika para utusan itu baru keluar dari Rasulullah, tiba-tiba datanglah utusan Bani Musthaliq yang kemudian menjelaskan duduk persoalan yang sesungguhnya. Allah kemudian menurunkan Firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik dengan membawa berita, maka telitilah berita itu agar kalian tidak memberikan keputusan kepada suatu kaum tanpa pengetahun sehingga kalian akan menyesali diri atas apa yang telah kalian kerjakan.(QS al-Hujurat [49]: 6)

Ma’âsyirol Muslimin Rahimakumullah

Ayat ini memberi perintah kepada kita, bahwa dalam menerima berita, jika sumber beritanya orang fasik maka kita harus meneliti berita tersebut, agar kita tidak terjebak dalam pengambilan keputusan berdasarkan kebodohan yang akhirnya berujung pada penyesalan. Jika berita orang Islam yang fasik saja perlu dicek, maka berita yang disampaikan orang kafir tentunya harus lebih dicek lagi.

Adapun berita dari orang Islam, Imam al-Qurthûbi tetap mensyaratkan agar pihak pengambil keputusan, baik penguasa maupun bukan, tetap harus melakukan pengecekan terhadap berita yang diterimanya.[3] Ini seperti yang terjadi dalam kasus al-Walîd di atas. Al-Walîd adalah utusan Nabi saw., yang tentu merupakan orang pilihan. Akan tetapi, akibat kesalahpahamannya terhadap sambutan Bani Musthaliq, ia bisa melakukan kesalahan, yang barangkali tidak sengaja ia lakukan.

Ma’âsyirol Muslimin Rahimakumullah

Penggunaan kata naba’ (berita) dalam ayat ini mempunyai konotasi, bahwa berita tersebut adalah berita penting yang mempunyai faedah yang besar[4] . Misalnya berita yang disampaikan oleh Amerika bahwa yang mengebom WTC adalah kelompoknya Al Qaeda pimpinan Usama bin Laden, berita ini termasuk berita besar yang terbukti telah memicu tertumpahnya darah ribuan umat Islam di Afghanistan, Iraq, dan tempat lain, bahkan sampai sekarang menjadi alasan untuk menghina dan melecehkan Islam. Berita ini bersumber dari orang-orang kafir atau orang – orang fasik, maka seharusnya di cek kebenarannya. Dalam kasus seperti ini Rasulullah memberi contoh menarik; Rasul langsung mengirim Khâlid bin al-Walîd untuk memeriksa keadaan Bani Musthaliq[5], Rasul tidak mengeceknya kepada al Walid saja. Oleh sebab itu dalam berita-berita seperti diatas kita hendaknya juga tidak hanya menerima berita tersebut dari si pembawa berita (Amerika) saja, namun mengeceknya juga dari sumber lain.

Ma’âsyirol Muslimin Rahimakumullah

Fakta telah terungkap bahwa Mossad –badan intelijen Israel, dan CIA terlibat dalam runtuhnya WTC. Perdana Menteri Italia Francesco Cossiga membenarkan hal ini, yang diungkap juga oleh New York Time disusul American Free Press dan Press TV, salah satu pelakunya adalah Ziad Al Jarrah yang mendapat order dari Ali Al Jarrah, seorang pendukung Palestina yg ternyata mata-mata Israel[6] dan selama 25 thn bekerja untuk Mossad[7].

Ma’âsyirol Muslimin Rahimakumullah

Banyak berita yang kita saksikan tiap hari, hendaklah kita tidak begitu saja menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya, kemudian memberi sebutan buruk untuk saudara kita berdasarkan berita tersebut, apalagi kalau kita temukan kejanggalan, seperti kasus HKBP, dimana diberitakan 9 muslim yg dikaitkan dg ormas tertentu menghadang dan menyerang 200 orang, bagaimana bisa 9 orang menghadang 200 orang? Dalam hal seperti ini hendaklah kita cek dari dua belah pihak agar umat tidak begitu mudah diadu domba. Rasulullah SAW bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seorang disebut pendusta jika dia mengatakan setiap yang dia dengar (HR. Muslim dari Hafsh bin ‘âsim)

Semoga Allah senantiasa menunjukkan kebenaran pada kita dan membimbing kita mengikuti kebenaran, sehingga kelak kita mendapat kemudahan pada hari dimana kita dimintai pertanggung jawaban atas semua yang telah kita perbuat. Semoga Allah menjaga kita dari mengikuti apa-apa yang tidak kita miliki pengetahuan yang cukup tentangnya. Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(QS. Al Israa’ 36)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْاَنِ الْعَظِيم، وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الاَيَاتِ وَ الذِّكْرِ الحَْكِيْم اَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيمَْ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ فَاسْتَغْفِرُوهُ اِنَّهُ هُوَالْغَفُوْرُ الرَّحِيمِ

Baca Juga:


[1] Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta’wîl Ayy al-Qu’ân, Dâr al-Fikr, Beirut, 1405, juz XXVI, hlm. 123-124.

[2] Ini dalam riwayat imam Ahmad

[3] Al-Qurthûbi, Ibid, juz XVI, hlm. 311.

[4] Lihat, As-Shâbûni, Shafwat at-Tafâsîr, Dâr as-Shâbûni, Kairo, cet. IX, juz III, hlm. 231, mengutip ar-Râghib al-Ashfahâni

[5] At-Thabari, Ibid, juz XXVI, hlm. 124.

[6] http://www.detiknews.com/read/2009/03/11/094003/1097482/10/ali-al-jarrah-dibayar-israel-rp-3,6-miliar

[7] Banjarmasin Post, tanggal 11-12, Maret 2009

About these ads

Posted on 22 September 2010, in Khutbah Jum'at, Politik, Syari'ah, Tafsir and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya.