Sifat Allah

Sebelum munculnya para mutakallimin tidak dikenal perma-salahan (pembahasan khusus-pen) tentang sifat-sifat Allah dan tidak pernah persoalan ini muncul dalam setiap pembahasan. Di dalam al-Quran dan hadits yang mulia tidak didapati kata mengenai sifat-sifat Allah, begitu juga tidak ada seorang sahabatpun yang menyebutkan kata-kata tentang sifat-sifat Allah atau membahas tentang sifat-sifat Allah. Apa yang telah dikatakan oleh para mutakallimin tentang sifat-sifat Allah yang –menurut mereka- terdapat dalam ayat-ayat al-Quran harus dipahami berdasarkan konteks firman Allah Swt:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ

Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. (TQS. ash-Shaaffat [37]: 180)

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. (TQS. asy-Syura [42]: 11)

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata. (TQS. al-An’aam [6]: 103)

Pensifatan terhadap Allah harus diambil dari al-Quran saja. Seperti misalnya di dalam al-Quran terdapat kata al-ilmu, maka harus diambil dari pemisalan ayat berikut ini. Firman Allah Swt:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib. Tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (lauhil mahfuz). (TQS. al-An’aam [6]: 59)

Seperti al-hayat diambil dari pemisalan ayat berikut ini. Firman Allah Swt:

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). (TQS. al-Baqarah [2]: 255)

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ

Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. (TQS. al-Mukmin [40]: 65)

Seperti al-qudrah diambil dari pemisalan ayat berikut ini. Firman Allah Swt:

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا

Katakanlah: ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan). (TQS. al-An’aam [6]: 65) …

Sifat-sifat tersebut terdapat di dalam al-Quran yang mulia. Juga dijumpai pula sifat-sifat yang lain, seperti al-wahdaniyah, al-qidam dan lain-lain. Kaum Muslim dimasa lalu tidak pernah berselisih pendapat bahwa Allah itu satu dan bersifat azali lagi memiliki sifat hayyun, qadirun, sami’un, bashirun, mutakallimun, ‘alimun serta muridun.

Lalu datang para mutakallimin yang menyebarkan pemikiran-pemikiran filsafat. Maka muncul perselisihan pendapat dikalangan para mutakallimin tentang sifat-sifat Allah tadi. Kelompok mu’tazilah berkata, bahwa zat Allah dan sifat-sifatNya itu satu. Allah bersifat ‘alimun, hayyun dan qadirun itu pada zat-Nya, jadi ilmu, qudrah dan hayat bukanlah tambahan pada zatNya, sebab jika ‘alimun dengan ilmu dianggap sebagai tambahan pada zatNya, dan hayyun dengan hayat sebagai tambahan pada zatNya, berarti keadaannya sama dengan manusia. (Yaitu) mesti ada sifat dan mausuf (sesuatu yang disifati), juga hamil (yang membawa) dan mahmul (sesuatu yang dibawa). Hal semacam ini merupakan kondisi (yang bersifat) jasmani (fisik). Maha suci Allah dari (sifat) penjasmanian. Seandainya kami mengatakan setiap sifat itu berdiri dengan sendirinya sungguh yang kekal itu akan berbilang (qudama). Dengan ungkapan lain akan terdapat banyak Tuhan.

Sementara itu (kelompok) ahli sunnah berkata, Allah Swt memiliki sifat-sifat azaliyah yang bersatu dengan zatNya, yaitu (bukan Dia dan bukan selainNya). Keberadaan-Nya memiliki sifat-sifat, maka mengapa harus ditetapkan bahwa Allah itu ‘alimun, hayyun, qadirun dan seterusnya. Dan telah diketahui bahwa masing-masing dari ilmu, hayat, qudrah dan yang semisalnya, menunjukkan pengertian (adanya) tambahan terhadap mafhum al-wajibul wujud (wajib keberadaannya). Semua itu bukan kalimat sinonim. Jadi, tidak mungkin terjadi seperti yang dikatakan oleh kelompok mu’tazilah, bahwa Dia itu ‘alimun la ilma lahu (‘alim tetapi tidak memiliki ilmu), dan qadirun la qudrata lahu (qadir tidak memiliki kekuasaan atau kemampuan) dan lain-lain sebagainya. Hal seperti itu mustahil ada. Itu sama saja dengan menga-takan bahwa warna hitam tetapi tidak ada hitamnya. Nash-nash telah menerangkan tentang ketetapan ilmu, qudrah-Nya dan lain-lain. Dan hal itu telah ditunjukkan oleh hasil perbuatan yang mutqinah (tepat) atas keberadaan ilmu dan qudrah-Nya. Bukan sekedar dinamakan alim (berilmu) dan qadir (berkuasa) saja. Keberadaan sifat Allah yang azali, berarti tidak mustahil melakukan berbagai peristiwa dengan zatNya yang Maha tinggi. Sifatnya yang qadim dan azali tidak mungkin melakukan sebuah peristiwa saja. Mengenai keberadaan sifat-sifat-Nya yang menyatu dengan zat-Nya yang Maha tinggi maka hal itu merupakan bagian terpenting yang secara pasti harus ada, karena tidak ada maknanya mensifati sesuatu kecuali apa yang ia lakukan. Tidak ada makna (keberadaanNya) sebagai ‘aliman dengan melakukan sifat terhadap perkara yang sudah diketahui. Tetapi makna (keberadaanNya) sebagai ‘aliman berarti menguasai sifat mengetahui. Adapun keberadaan sifat (bukan Dia dan bukan selainNya) berarti sifat-sifat Allah bukanlah zat-Nya itu sendiri, karena akal memastikan bahwa sifat bukanlah mausuf (yang disifati). Artinya, sifat tersebut merupakan makna tambahan pada zat. Hal itu merupakan sifat bagi Allah sehingga bukan selain Allah. Ia bukanlah sesuatu, bukan pula berupa zat ataupun benda, melainkan sifat bagi zat. Keberadaannya bukanlah zat Allah, bukan pula selain Allah, ia merupakan sifat bagi Allah.

Tentang perkataan kelompok mu’tazilah, seandainya dijadikan seluruh sifat berdiri tegak dengan sendirinya maka yang kekal itu akan berbilang (qudama). Pernyataan semacam ini (bisa diterima) jika keberadaan sifat itu sebagai zat. Kalau keberadaannya sebagai sifat bagi zat yang qadim (terdahulu) maka tidak akan menjadikan zat tersebut berbilang. Boleh saja sifat-sifat itu berbilang bagi satu zat, lagi pula yang demikian itu tidak menghilangkan sifat wahdaniyah dan tidak akan terjadi politheisme (banyak tuhan). Oleh karena itu ahli sunnah*) menetapkan -secara akal- bahwa Allah memiliki sifat-sifat yaitu selain zatNya dan bukan yang selainNya, karena sifat bukanlah mausuf (yang disifatkan), dan ia tidak terpisah dari mausuf. Kemudian ahli sunnah menjelaskan makna setiap sifat-sifat azali. Mereka berkata bahwa sifat ilmu adalah sifat azali yang mampu menyingkap seluruh ma’lumat ketika sifat itu berhubungan dengan ma’lumat tadi. Begitu pula sifat qudrah adalah sifat azali yang berpengaruh dalam segala hal yang dapat dikuasai ketika sifat qudrah ini berhubungan dengan hal yang dikuasainya tadi. Sifat hayat adalah sifat azali yang mengharuskan kelayakan yang hidup. Sifat qudrah merupakan kekuatan. Sifat mendengar (as-sam’u) adalah sifat azali yang berhubungan dengan segala yang didengar. Sifat melihat (al-bashar) adalah sifat azali yang berhubungan dengan segala yang dilihat. Berdasarkan sifat-sifat tersebut Allah mampu mengetahui secara sempurna, bukan melalui jalan khayalan ataupun persangkaan, bahkan bukan berdasarkan jalan yang dipengaruhi oleh perasaan maupun hawa nafsu. Iradah dan masyi-ah, keduanya adalah ungkapan tentang sifat yang terdapat pada hayyun (yang hidup), yang mengharuskan pengkhususan salah satu yang dikuasai didalam satu waktu untuk melakukan kejadian dengan kadar kemampuan terhadap keseluruhan yang merata. Sifat kalam adalah sifat azali yang telah diungkapkan secara teratur, dikenal dengan al-Quran. Allah Swt berbicara/berkata-kata dengan kalam. Ia merupakan sifat bagi-Nya dan azali, bukan dari jenis huruf-huruf maupun suara-suara. Yaitu sifat yang berlawanan dengan sukut (diam) atau afat (wabah/bahaya). Allah Swt berkata-kata dengan sifatNya sebagai ‘amirun (yang memerintah), nahin (yang melarang), mukhbirun (pem-beri khabar). Atas seluruh (sifat) ‘amirun, nahin dan mukhbirun menda-pati makna dari dirinya, kemudian ia akan menunjuk kearahnya.

Itulah penjelasan ahli sunnah tentang sifat-sifat Allah, setelah mereka menetapkan bahwa Allah memiliki sifat-sifat azaliyah. Namun kelompok mu’tazilah mengingkari keberadaan makna-makna ini bagi sifat-sifat Allah, karena mereka (mu’tazilah) menegasikan bagi Allah memiliki sifat-sifat (yang merupakan) tambahan bagi zatNya. Mereka berpendapat apabila dipastikan bahwa Allah itu qadir, ‘alim, muhith (maha meliputi segalanya), maka zat Allah dan sifat-sifatNya tidak bisa diikuti oleh perubahan, karena perubahan itu merupakan sifat baharu (muhdats). Maha suci Allah dari sifat-sifat baharu. Apabila keberadaan sesuatu itu dijadikan setelah (sebelumnya) tidak ada, dan meniadakan sesuatu setelah keberadaannya, dan qudrah serta iradah Allah menguasai hal itu -sehingga qudrah dan iradahNya (mampu) menjadikan sesuatu dari ketiadaannya dan meniadakannya setelah sesuatu itu ada- maka bagaimana qudrah ketuhanan yang bersifat qadim berhubungan dengan sesuatu yang baharu (muhdats) hingga qudrah tersebut dapat mengadakannya? Dan mengapa qudrah tersebut mengadakannya pada saat ini, bukan pada saat lainnya dan bukan pada masa pertama? Qudrah yang secara langsung berjalan terhadap sesuatu setelah sebelumnya tidak berhubungan secara langsung dengan sesuatu tadi, menunjukkan adanya perubahan pada qudrah. Padahal sudah pasti bahwa Allah tidak diikuti oleh perubahan. Keadaan-Nya adalah qadim dan azali. Begitu pula pernyataan tentang iradah. Contoh seperti itu dikatakan juga tentang ilmu. Ilmu adalah mengungkap sesuatu yang ma’lum (diketahui) atas apa yang ada. Sementara ma’lum (yang diketahui) tersebut dapat berubah dari waktu ke waktu. Daun pepohonan yang jatuh berguguran setelah keberadaan (sebelum)nya tidak berguguran. Tanah yang lembab berubah menjadi tanah yang kering. Kehidupan berubah menjadi kematian. Ilmu Allah mampu menyingkap sesuatu berdasarkan penyandaran pada ilmuNya, sehingga Dia Maha mengetahui sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi. Dia Maha mengetahui sesuatu bahwa keberadaannya itu benar-benar ada, dan Maha mengetahui sesuatu bahwa keberadaannya itu benar-benar tidak ada. Maka bagaimana ilmu Allah mengalami perubahan disebabkan (adanya) perubahan terhadap segala sesuatu yang ada? Ilmu yang mengalami perubahan yang disebabkan oleh (adanya) perubahan tentang berbagai kejadian adalah ilmu yang bersifat baharu (muhdats). Dan Allah Swt tidak melakukan sesuatu yang muhdats, karena setiap hal yang berhubungan dengan sesuatu yang baharu berarti ia juga bersifat baharu (muhdats).

Pernyataan ini telah ditentang oleh kelompok ahli sunnah yang berkata bahwa qudrah memiliki dua ta’alluq (hubungan), yaitu azali yang tidak menghasilkan adanya al-maqdur (kemampuan) secara nyata, dan ta‘alluq hadits (hubungan yang bersifat baharu-pen) yang menghasilkan adanya al-maqdur secara nyata. Qudrah tersebut berhubungan dengan sesuatu hingga ia dapat mewujudkannya. Qudrah itu telah ada sebelum terjadi hubungannya dengan sesuatu. Hubungannya dalam mewujudkan sesuatu itu tidak membuat qudrah tersebut menjadi baharu. Dan hubungannya secara langsung terhadap sesuatu setelah tidak adanya hubungan tersebut, bukan berarti terjadi perubahan pada qudrah. Jadi, qudrah adalah qudrah itu sendiri. Ia tidak mengalami perubahan, tetap berhubungan dengan sesuatu sekaligus mewujudkannya. Al-maqdurlah yang mengalami perubahan, sedangkan qudrah tidak berubah. Mengenai ilmu, maka segala sesuatu yang mungkin berhubungan dengan ilmu adalah ma’lum (sesuatu yang diketahui) secara nyata. Yang sesuai dengan ‘alimiyah (sifat kemahatahuan) adalah zatNya Swt,. Dan yang sesuai dengan ma’lumiyah (sifat yang diketahui) adalah zat-zat segala sesuatu. Maka hubungan zat dengan keseluruhan zat-zat itu sama saja. Ilmu tidak berubah sesuai dengan zat. Yang berubah hanyalah aspek penam-bahannya. Dan ini boleh-boleh saja. Yang mustahil adalah perubahan ilmu itu sendiri dan sifat-sifat yang qadim, seperti qudrah, ilmu dan lain-lainnya. Jadi, tidak mesti sifat-sifat itu qadim sehingga hubungannya harus bersifat qadim pula. Walhasil, bahwa zat yang bersifat qadim berhubungan dengan zat-zat yang bersifat baharu (muhdats).

Begitulah polemik itu berkecamuk antara kelompok mutakallimin mu’tazilah disatu sisi dengan kelompok ahli sunnah disisi lain tentang sifat-sifat Allah. Sama seperti (polemik mereka pada) masalah lain, seperti qadla dan qadar. Anehnya ruang lingkup perdebatan yang dikobarkan oleh para mutakallimin sama seperti yang telah dikobarkan oleh para filosof Yunani sebelumnya. Para filosof Yunani mengobarkan ruang lingkup tentang masalah sifat-sifat al-Khaliq, sehingga muncul kelompok mu’tazilah yang menjawab tentang masalah itu. Meskipun demikian jawaban mereka masih dalam batas-batas keimanan mereka kepada Allah, dan masih dalam koridor pendapat-pendapat yang bertumpu pada tauhid. Lalu muncul kelompok ahli sunnah yang menentang pendapat mereka, untuk mengurangi tekanan filsafat Yunani, dan dibalik apa yang menjadi teori keharusan maupun premis-premis yang bersifat mantiq (logika). Merekapun terjatuh kedalam perangkap yang sama dengan kelompok mu’tazilah sehingga kelompok mu’tazilah menentang pendapat mereka (para ahli sunnah). Mereka menjadikan akal sebagai asas/landasan dalam berdiskusi dan berpolemik tentang perkara-perkara yang bisa dijangkau dan yang tidak bisa dijangkau oleh akal, mengenai hal yang dapat diindera dan yang tidak dapat diindera oleh manusia. Mereka menjadikan ayat-ayat dan hadits-hadits sebagai pendukung pendapatnya. Mereka mentakwil dalil ayat-ayat dan hadits-hadits yang berbeda dengan arah pendapat mereka. Dengan demikian seluruh kelompok mutakallimin baik itu kalangan mu’tazilah, ahli sunnah maupun lainnya sama-sama men-jadikan akal sebagai asas/landasan. Dan menjadikan ayat-ayat Allah sebagai pendukung arah pandangan akal, atau ayat-ayat tersebut ditakwilkan agar dapat dipahami sesuai dengan pandangan akal orang yang memahami diantara mereka.

Yang menghantarkan para mutakallimin hingga bersikap seperti ini terkait dengan dua perkara berikut:

Pertama, kekaburan tentang  definisi  akal.

Kedua, mereka tidak bisa membedakan antara metode al-Quran dalam memahami berbagai hakekat, dengan metode para filosof dalam memahami hakekat.

Kekaburan mereka tentang definisi akal tampak jelas dari definisi mereka mengenai akal. Telah diriwayatkan bahwa mereka mengatakan: ‘akal adalah kekuatan di dalam jiwa atau daya pemahaman’. Ini merupakan makna dari perkataan mereka ‘watak/instink yang disertai oleh ilmu mengenai perkara-perkara yang dianggap penting disaat seluruh perangkatnya benar’. Mereka juga mengatakan: ‘akal adalah jauhar (inti) yang dapat mengetahui segala perkara ghaib melalui berbagai perantara atau mengetahui segala hal yang dapat disaksikan melalui musyahadah (penginderaan)’. Mereka juga mengatakan: ‘akal adalah jiwa itu sendiri’. Barangsiapa yang pemahamannya tentang akal sesuai dengan pemahaman diatas maka bukan hal yang mengherankan jika ia menyusun suatu teori terhadap berbagai premis yang ada, lalu melahirkan kesimpulan yang sebenarnya tidak pernah ada. Ia mengatakan tentang dirinya sendiri bahwa ia mengetahui kesimpulan ini berdasarkan akal. Berdasarkan hal ini pembahasan yang bersifat aqli pada mereka tidak memiliki batasan tertentu. (Bagi mereka) seluruh topik layak dibahas, hingga sampai pada beberapa kesimpulan dan itu dinamakan sebagai pembahasan yang bersifat aqli. Begitupun kesimpulannya bersifat aqli. Tidak mengherankan jika kelompok mu’tazilah mengatakan, bahwa ta’alluq qudrah Allah yang azali dengan al-maqdur yang bersifat baharu menjadikan sifat qudrah sebagai sesuatu yang baharu pula. Mereka menganggap bahwa hal itu adalah pembahasan yang bersifat aqli dan kesimpulannya pun bersifat aqli pula. Sementara ahli sunnah berkata -pada saat itu- bahwa ta’alluq qudrah Allah dengan al-maqdur tidak menjadikan qudrah itu mengalami perubahan, dan tidak menjadikannya sesuatu yang baharu, karena yang membuat qudrah menjadi baharu adalah perubahan qudrah itu sendiri, bukan perubahan al-maqdur. Mereka juga menganggap bahwa hal itu merupakan pembahasan yang bersifat aqli, dan kesimpulannya pun bersifat aqli. Sebab, akal menurut mereka adalah an-nafsu (jiwa) atau watak atau instink yang disertai dengan ilmu mengenai hal-hal yang dianggap perlu. Jadi, ia membahas tentang segala sesuatu. Kalau mereka mengetahui makna akal yang sebenarnya tentu mereka tidak akan terlibat dalam pembahasan hipotetis yang terlalu menduga-duga. Lagi pula seluruh kesimpulan yang dihasilkannya tidak bersifat praktis, dan hanya (berasal) dari sesuatu yang dihasilkan (dikaitkan dengan) sesuatu yang lain lalu hal itu disebut dengan hakekat yang bersifat aqliyah.

Dewasa ini pengertian tentang akal sudah kita peroleh penje-lasannya, sehingga kita dapat mengetahui bahwa jika segala sesuatu yang ada tidak memadai untuk dibahas secara akal, maka tidak mungkin kita namakan pembahasannya bersifat aqliyah, dan hal itu tidak mengizinkan kita untuk membahasnya. Kita telah mengetahui bahwa definisi akal adalah: ‘perpindahan fakta melalui perantaraan indera menuju otak dan disertai dengan ma’lumat sabiqah (informasi-informasi terdahulu) yang akan menafsirkan fakta tersebut’. Jadi, pembahasan yang bersifat aqliy harus ada empat macam, yaitu: pertama adalah otak, kedua adalah indera, ketiga adalah fakta, dan yang keempat adalah ma’lumat sabiqah yang berhubungan dengan fakta tersebut. Jika satu unsur saja dari empat perkara tadi tidak ada maka tidak mungkin terjadi pembahasan yang bersifat aqliy secara mutlak, meski dimungkinkan adanya pembahasan yang bersifat mantiqi (bersifat logika), dan mungkin pula adanya pembahasan yang bersifat khayal atau angan-angan. Semua ini tidak ada nilainya sama sekali karena hal itu tidak berada dibawah pemahaman akal, atau sumbernya tidak berada dalam cakupan pemahaman akal. Karena tidak adanya pengetahuan para mutakallimin tentang pengertian akal, maka mereka disebut sebagai kelompok bebas pada seluruh pembahasan yang tidak tercakup didalam indera, atau mereka tidak memiliki ma’lumat sabiqah yang berkaitan dengan (segala sesuatu).

Para mutakallimin tidak mampu membedakan antara metode al-Quran dengan metode para filosof mengenai pembahasan yang bersifat aqliyah. Al-Quran membahas tentang ketuhanan, dan para filosof juga membahas tentang ketuhanan. Pembahasan para filosof tentang ketuhanan menganalisis wujud yang mutlak dan apa-apa yang harus ada (dikehendaki) pada zatnya (tuhan). Mereka tidak membahas tentang alam semesta. Mereka malah membahas perkara yang ada dibalik alam semesta. Mereka menyusun bukti-bukti (argumentasi) yang dimulai dengan premis-premis, hingga (dari susunan bukti-bukti tersebut) sampai pada suatu kesimpulan. Dari kesimpulan ini mereka susun lagi dengan kesimpulan lainnya hingga menjadi kesimpulan-kesimpulan baru. Begitulah seterusnya hingga mereka sampai pada hal-hal yang dianggapnya sebagai hakekat tentang suatu zat dan apa yang dikehendaki oleh zat tersebut. Mereka berbeda-beda dalam menghasilkan kesimpulan yang telah dicapainya. Jalan yang mereka tempuh dalam pembahasan hanya satu, yaitu apa yang ada dibalik alam semesta. Lalu mereka mengukuhkan setiap argumentasi yang dihasilkannya, baik itu bertumpu pada asumsi-asumsi sebuah teori, atau berdasarkan argumentasi yang lain, yang sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang dianggap oleh mereka sebagai kesimpulan yang qath’i dan harus diyakini.

Metode pembahasan semacam ini bertentangan dengan metode al-Quran, karena al-Quran hanya membahas tentang alam semesta, mengenai benda-benda yang telah ada, tentang bumi, matahari, bulan, bintang, binatang, manusia, segala makhluk melata, unta, gunung dan lain-lain yang termasuk perkara yang dapat diindera. Dari situ mampu menjadikan seseorang sadar tentang adanya Pencipta alam semesta, adanya Pencipta segala yang ada, Pencipta matahari, unta, gunung, manusia dan lain-lain sebagainya yang diperoleh melalui penginde-raannya terhadap segala sesuatu yang ada. Tatkala membahas hal-hal yang ada dibalik alam semesta -yang tidak dapat diindera dan tidak dapat dijangkau melalui segala sesuatu yang ada-, maka al-Quran mensifatinya sebagai fakta atau menetapkannya sebagai suatu fenomena seraya memerintahkan (manusia) untuk mengimaninya dengan perintah yang pasti. Dan al-Quran tidak memerintahkan untuk mengalihkan pandangan manusia agar memikirkannya, demikian juga tidak mengalihkan pandangan manusia kepada sesuatu hingga ia bisa memikirkannya melalui sesuatu tadi. Seperti tentang sifat-sifat Allah, surga, neraka, jin, syaitan dan yang semisalnya. Metode ini telah dipahami oleh para sahabat, dan mereka berjalan sesuai metode tersebut. Mereka terjun di negerinya dengan mengemban risalah Islam kepada manusia untuk membahagiakan mereka dengan risalah Islam tadi, sebagaimana mereka memperoleh kebahagiaan dengan risalah tersebut. Keadaan seperti ini tetap berlangsung hingga berakhirnya abad pertama. Lalu pemikiran-pemikiran filsafat Yunani mulai menyusup hingga munculnya para mutakallimin. Maka metode pembahasan yang bersifat aqliyah mengalami perubahan. Setelah itu terjadi polemik mengenai zat Allah dan sifat-sifatNya. Bahkan polemik tersebut makin menjadi-jadi, meski persoalan yang diperdebatkan tidak tergolong pembahasan yang bersifat aqliyah sama sekali. Sebab, topik pemba-hasannya mengenai sesuatu yang tidak tercakup dalam penginderaan, padahal segala sesuatu yang tidak dapat diindera tidak memiliki ruang bagi akal untuk membahasnya. Bagaimanapun, pembahasan tentang sifat-sifat Allah, apakah zat itu sendiri ataupun bukan, sama saja dengan membahas tentang zat. Dan secara prinsip pembahasan tentang zat itu dilarang, malah mustahil untuk dibahas. Oleh karena itu seluruh pembahasan para mutakallimin mengenai sifat-sifat Allah tidak pada tempatnya dan termasuk kesalahan yang harus diluruskan. Sifat-sifat Allah bersifat tauqifiyah (tidak bisa diganggu gugat). Apa yang terdapat dalam beberapa nash-nash yang bersifat qath’i –seperti yang telah kita sebutkan- itulah (yang kita pahami) apa adanya. Kita tidak boleh menambahkan satu sifat pun yang tidak ditemukan di dalam nash. Dan kita tidak boleh menjelaskan satu sifat pun kalau tidak terdapat (penjelasan tersebut) di dalam nash-nash yang qath’i. Allahu A’lam [secuil terjemahan kitab Syakhsiyyah Al Islamiyyah juz 1]

*) Ahlus sunnah yang dimaksud dalam tulisan ini adalah Asy’ariyyah, karena beliaulah yang digelari oleh ulama sezamannya sebagai imam ahlus sunnah wal jama’ah

Baca Juga:

About these ads

Posted on 1 Mei 2010, in Aqidah and tagged . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. ..’Didalam al quran dan hadis yg mulia tidak didapati kata mengenai sifat-sifat Allah…
    Paragraf ini pernah dikritik oleh al hilali.kemudian beliau menyebutkan sebuah hadis yg terdapat dlm sahih bukhari yg ada kata sifat allah.
    Kalau memang ada kesalahan redaksi dari taqiyudin mengapa tidak dirubah:-)?

    • 1. Al hilali yg dimaksud Syaikh Salim al-Hilali? kalau ya, saya sudah baca kritiknya di kitab HIMPUNAN RISALAH PEMBELAAN SALAFIYYAH Terhadap Ulama Ahlus Sunnah [Ibnu ’Abdil Wahhab, Al-Albani dan Ibnu Baz]

      Cuma yg dikritik di situ bukan hal esensial, esensi pembahasan disitu kan menjauhkan pembahasan tentang sifat Allah dari metode ilmu kalam, anehnya di kitab tsb HT justru dituduh sesat sebagaimana sesatnya mu’tazilah, asy’ariyah dan maturidiyyah. Kalau memang standard yg digunakan adalah standard nya orang yang mengaku salafy sekarang ini, memang tidak aneh kalau banyak yg disesatkan, diantaranya:

      HT sesat (http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=36),
      Hasan al Banna, Ikhwanul Muslimin, sesat (http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=560),
      Qordlowi sesat (http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=645),
      Jama’ah Tabligh sesat (http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=329)
      Bahkan Abu Qatadah yg manhajnya juga ngaku salafy di cap hizbiyyun, sururiyyun (http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=558),
      NU juga sesat karena jelas-jelas menganut aqidah Asy’ariyah dan Maturidiyyah, yg menurut kitab merupakan aqidah tsb sesat.
      Adapun untuk ulama besar mereka tidak menggunakan istilah sesat, namun keliru, seperti yg ditulis tentang kekeliruan imam Nawawi dalam memahami sifat Allah, kekeliruan aqidah Al Hafidz Ibnu Hajar dalam fathul bary, juga al Hafidz Al Baihaqi.

      2. Hadits yang disebutkan dikitab tsb ternyata juga tidak ada lafadz “sifat Allah” atau “sifatullah”. namun demikian, kalau “redaksi” ini yg dikritisi krn mungkin bisa membawa kesalahfahaman, ana rasa redaksi kitabnya memang bisa diusulkan diubah (insya Allah nanti kalau ada kesempatan akan saya sampaikan).

  2. Terima kasih. Atas penjelasannya, demikian yang saya maksud;-)

  3. Masya Allah pak, bingung saya bacanya. :)

    Mudah-mudahan ini tidak masuk perkara aqidah yang membatalkan keimanan seseorang. Orang awam seperti saya menyerah dengan bahasan begini.

  4. dari bukur RENUNGAN karya Imam Al Ghazali :
    … begitu jugalah dlm melihat Zat dan Sifat Allah SWT, akal manusia takkan tahan melakukannya krn dahsiyatnya. Lbh baik JANGAN memikirkan/ menTAFAKURi ttg inti Zat dan sifat2NYA, sebab tdk semua memiliki syarat2 kekuatan akal yg cukup utk itu. Dan apa yg tlh dinyatkan oleh para ulama hanyalah sebahagian kecil sahaja, yaitu bhw Allah SWT itu Maha Suci, bhw DIA tidak di dlm atau di luar alam semesta serta tdk pula bersatu atau berpisah dari alam ini.
    Sekedar sebahagian ini sahaja sdh menimbulkan kebingungan pada akal sebagian manusia, dan bahkan mungkin malah akhirnya akan mengingkari WUJUD adanya (Tuhan) Allah SWT.

    Allah SWT tlh berfirman kpd salah seorg nabi: “Janganlah kau JELASKAN sifat-sifatKU kpd MAKHLUKKU utk menjaga agar jangan smp mereka MENGINGKARIKU, tetapi katakan sajalah APA2 yg akan DAPAT mereka PAHAMI tentang AKU”

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 358 pengikut lainnya.